Kamis, 10 Januari 2008

Just Share : Bercerai dengan Indah


Di ujung dunia manapun kata "Cerai" tak akan pernah sedap mampir ke telinga. Terlebih bagi pasutri yang sudah lama menikah, mungkin kata tersebut dilarang keras menyatroni angan-angan mereka. Tapi perjalanan rumah tangga, bukanlah perjalanan yang selalu mulus. Ada banyak konflik berkeliaran disana. Ada "hantu-hantu galak" sang penyebab pertengkaran. Ada kerikil2 tajam, ada lubang2 jebakan. Ada pula jalanan berliku dan curam. Semuanya tidak main2 untuk dihadapi oleh mereka. Karenanya, bagi pasangan yang tidak kuat, pasti akan didatangi juga kata tersebut. Dan, kalau memang mereka benar2 angkat tangan, maka terimalah kata yang satu itu dengan sepenuh hati, penuh pertimbangan, tanpa emosi, tanpa dendam, tanpa timbul kekisruhan. Dari sini kita akan tahu apa artinya "Bercerai dengan Indah".

Teman,
Mari kita sama2 saling mengetahui apa arti dari Bercerai dengan Indah. Adakah yang sudah pernah membaca buku "Bercerai dengan Indah --> Ganjar Triadi Budi Kusuma ? klo belum pernah ada yang baca, aku akan membantu untuk merangkumnya di blog ku ini sekaligus disini aku pun ingin share dengan kalian mengenai Bercerai dengan Indah dan menjadi seorang single parent.
Perceraian Madu atau Racun ?
Hampir setiap pasangan yang memilih jalan perkawinan sebagai pilihan untuk hidup berdua, berkeinginan meraih kebahagiaan. Mereka ingin selalu berdua, rukun, damai, tentram, hingga menjadi kakek-nenek kelak. Mereka berjanji untuk saling mencintai, saling setia dan saling mengasihi.

Seiring berjalannya waktu, banyak godaan, rintangan dan cobaan di tengah perjalanan. Dalam kehidupan yang fana ini, segala yang indah bisa luntur atau berkurang kadarnya, ibarat cat bangunan rumah megah, jika tidak dipoles pada saat2 tertentu, maka dapat kusam dan tidak menarik. Maka, setiap pasangan yang ingin langgeng hidup bahagia, mereka berdua harus menyadari arti pentingnya merawat jalinan perkawinan tersebut.

Kandasnya sebuah Harapan.
Banyak rencana manusia yang disusun dan dirangkai secara indah, sebagaimana sepasang suami istri berupaya merangkai kebahagiaan bersama. Tapi pada kenyataannya, banyak orang yang gagal mewujudkan rencana itu. Mereka berhenti di tengah jalan. Perceraian yang tak terhindarkan harus menjadi sebuah pilihan. Perceraian berarti perpisahan.

Sepasang suami istri yang semula adalah dua individu yang tidak saling mengenal, lantas bersatu, kini kembali menjadi dua manusia yang tidak lagi memiliki hubungan atau keterkaitan secara moral, sosial atau emosional. Tapi bagi yang telah membuahkan keturunan, anak2 tidak bisa dihapus begitu saja keberadaannya.

Perceraian biasanya dipilih sebagai alternatif terakhir jika semua jalan untuk mempertahankan keutuhan rumah tangga telah tertutup. Dalam kasusku... tidak ada pilihan lain selain Perceraian, karena semua jalan telah buntu. Mata, hati dan pikiran telah tertutup oleh rasa ego masing2 yang saling ingin mempertahankan suatu kebenaran dan jalan damaipun tak tercapai. Dengan penuh pertimbangan akhirnya rumah tangga yang sudah terjalin selama 15 tahun, kandas tak bisa dipertahankan lagi. Dalam hal ini... aku yang memilih hidupku.

Perceraian memang Racun buat kita juga buat anak2, tapi jika kita bisa menjalankan sebuah kehidupan dengan baik setelah adanya perceraian, maka hal yang semula dianggap Racun dia akan menjadi Madu.

Hubungan yang terjadi setelah perceraian biasanya bermula akan terasa hambar dan menyakitkan, tapi dengan seiring berjalannya waktu, karena keikhlasan, kesabaran dan karena hal tanggung jawab yang sama atas anak2, maka semua akan menjadi seperti semula, bahkan akan lebih baik, karena kedua belah pihak sudah menjadi individu masing2 kembali yang sudah tidak lagi memiliki emosional yang berkaitan (sudah tidak peduli dengan kehidupan masing2 kecuali kehidupan anak2). Karena yang ada kini adalah rasa tanggung jawab yang sama atas anak2 yang menderita karena ulah kami.

Hubunganku dengan mantan suami juga terjalin dengan baik, walau sudah tidak ada lagi "rasa" yang dulu tercipta saat kami bahagia bersama. Hubungan anak2 dan papanya selalu aku utamakan (anak2 hidup bersamaku), aku nga ingin mereka merasa kehilangan satu sama lainnya. Anak2 bahagia dengan sikap kami, anak2 mengerti... inilah pilihan hidup kami yang akhirnya membawa kebahagiaan buat kami berdua dan juga mereka. Walau mereka tau... kami tak mungkin kembali menjalin hubungan sebagai suami istri lagi, karena mereka tau.... aku nga ingin kembali ke masa lalu, aku telah menikmati hidupku seperti ini dan aku ingin menyongsong kehidupanku yang baru, kehidupan yang shakinah dengan pasanganku yang lain, jika diperkenankan oleh NYA, amiiin.....

Teman,
Hidup adalah sebuah perjalanan yang harus kita pilih. Hidup adalah sebuah pilihan.
Pilihan mana yang akan kita ambil, itulah hidup kita.

Perceraian adalah hal yang menyakitkan bagi semua pihak. Suatu perceraian yang telah dilakukan walau semula dengan rasa emosi, rasa egois, penuh pertimbangan, bahkan juga dengan rasa dendam, semua akan berakhir dengan baik karena adanya anak2 dan dengan berjalannya waktu, dengan keikhlasan dan kesabaran, maka akan berubah menjadi suatu kata maaf yang tercipta, karena kedua manusia yang semula bersatu akhirnya kembali menjadi individu masing2, sehingga sudah tidak ada lagi rasa emosional yang berkaitan.
Semua sudah kembali menjadi diri masing2. Hanya sebuah tali merah perkawinan (anak2) yang menjadi jembatan atas hubungan ini, yang kembali tercipta dengan baik.

Teman,
Jika pilihan anda adalah perceraian, dan demi anak2 maka buatlah semua menjadi seperti semula kembali, jelaskan pada anak2 kenapa kita bercerai, buatlah anak2 tetap merasa nyaman, tetap merasa utuh, tidak ada yang merasa kehilangan satu sama lainnya, walau tempat dan jarak memisahkan. Tapi tetap hubungan terjalin dengan baik, sehingga anak2 merasa Bahagia, merasa tetap memiliki orang tua yang utuh, yang menyayangi dan mencintai mereka serta mereka tidak merasa takut dan minder dalam lingkungan manapun dengan adanya perceraian antara mama & papa nya. Tataplah selalu ke depan, jangan kembali ke masa lalu, lupakan masa lalu dan kebahagiaan akan kamu raih.

Teman,
Itulah Pilihanku, itulah hidupku.... Aku kini hidup bahagia bersama putri2ku, begitu pula sebaliknya, putri2ku merasa bahagia dengan kehidupan kami saat ini. Dan, aku kini merasa telah Bercerai dengan Indah.

1 komentar:

kaos mengatakan...

Hmmmmmmm....ijinkan sy menggoreskan sedikit buah pikiranku ya (duh, puitis amat).
Bagi saya tidak ada kata 'bercerai'. Ini bukan karena sy anti perceraian, melainkan krn sejatinya semua yg sdh dipersatukan dan disahkan dibawah sumpah (walaupun sumpah manusia) itu mengikat seumur hidup. Jadi walaupun sdh berpisah secara hukum, ttp kalimat "sah" saat ijab kabul tetap mengikat selamanya...
Itu pendapat saya...